Pagi belum seluruhnya tiba, persiapan perjalanan untuk memasuki hutan sudah siap sejaka malam tadi. perjalanan kali ini adalah menjelajah sebagian rimba, untuk mencari orang-orang yang belum tercatat sebagai penduduk. hari itu adalah perjalanan bertepatan dengan kegiatan Sensus Penduduk 2010.
Ada rasa penasaran dan gelisah mungkin rasa khawatir apa yang akan dihadap
i, luasnya hutan yang harus dan kadangkala ditelusuri dengan mengibas semak semak yang akan kami lalui.selama ini hanya cerita dan berbagai ikutannya yang selalu didengar, dengan bumbu-bumbu sedikit mistis tentang keberadaan masyarakat yang akan kami datangi.
pagi akhirnya menjalang, bergegas kami menaiki mobil yang memang sudah disiapkan, perjalanan yang akan dituju adalah pinggir hutan di bukit 12, munjgkin tidak akan ke dalam sekali menyusur yang penting bisa berjumpa dan melihat keberadaan mereka.
Bayangan dan reka reka dengan dugaan 25 tahun yang lampau akhirnya tertepis sudah, mereka adalah kita, yang membedakan adalah dimana mereka hidup, tinggal dan beraktivitas sehari-hari, itu saja.
Suku Kubu atau juga dikenal dengan Suku Anak Dalam atau Orang Rimba adalah salah satu suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau Sumatra, tepatnya di Provinsi Jambi dan Sumatra Selatan. Mereka mayoritas hidup di propinsi Jambi, dengan perkiraan jumlah populasi sekitar 200.000 orang.
Menurut tradisi lisan suku Anak Dalam merupakan orang Maalau Sesat, yang m lari ke hutan rimba di sekitar Air Hitam, Taman Nasional Bukit Duabelas. Mereka kemudian dinamakan Moyang Segayo. Tradisi lain menyebutkan mereka berasal dari Pagaruyung, yang mengungsi ke Jambi. Ini diperkuat kenyataan adat suku Anak Dalam punya kesamaan bahasa dan adat dengan suku Minangkabau, seperti sistem matrilineal.

Secara garis besar di Jambi mereka hidup di 3 wilayah ekologis yang berbeda, yaitu Orang Kubu yang di utara Provinsi Jambi (sekitaran Taman Nasional Bukit 30), Taman Nasional Bukit 12, dan wilayah selatan Provinsi Jambi (sepanjang jalan lintas Sumatra). Mereka hidup secara nomaden dan mendasarkan hidupnya pada berburu dan meramu, walaupun banyak dari mereka sekarang telah memiliki lahan karet dan pertanian lainnya.
Kehidupan mereka sangat mengenaskan seiring dengan hilangnya sumber daya hutan yang ada di Jambi dan Sumatra Selatan, dan proses-proses marginalisasi yang dilakukan oleh pemerintah dan suku bangsa dominan (Orang Melayu) yang ada di Jambi dan Sumatra Selatan.
Mayoritas suku kubu menganut kepercayaan animisme, tetapi ada juga beberapa puluh keluarga suku kubu yang pindah ke agama Islam
tulisan berdasarkan kisah perjalanan yang dilakukan pada tahun 2010 pada saat pelaksanaan sensus penduduk dan diperkaya dengan tulisan