Tinjauan Umum Kondisi Inflasi tahun 2010 Jambi dan Alternatif Mengendalikannya
1. Pengertian Umum Inflasi
Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk meningkat secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan) kepada barang lainnya. Kebalikan dari inflasi disebut deflasi.
Indikator Inflasi di Indonesia:
• Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan indikator yang umum digunakan untuk menggambarkan pergerakan harga. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Dilakukan atas dasar survei bulanan di 45 kota, di pasar tradisional dan modern terhadap 283-397 jenis barang/jasa di setiap kota dan secara keseluruhan terdiri dari 742 komoditas.
• Indeks Harga Perdagangan Besar merupakan indikator yang menggambarkan pergerakan harga dari komoditi-komoditi yang diperdagangkan di suatu daerah.
2. Kondisi Inflasi di Indonesia tahun 2008
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Jambi tahun 2010 adalah 10,52 persen, angka ini mengisyaratkan bahwa kita punya ‘pekerjaan rumah’ untuk memperbaiki kondisi tahun 2011 yang sedang berjalan.
3. Penyebab Inflasi
Secara Teori: Inflasi dapat timbul karena adanya tekanan dari sisi penawaran (cost push inflation), dari sisi permintaan (demand pull inflation), dan dari ekspektasi inflasi.
Faktor-faktor pendorong terjadinya cost push inflation dapat disebabkan oleh depresiasi nilai tukar, dampak inflasi luar negeri terutama negara-negara partner dagang, peningkatan harga-harga komoditi yang diatur pemerintah (administered price, seperti BBM, TDL, tarif telepon, cukai rokok, dan tarif angkutan), dan terjadi negative supply shocks, seperti gagal panen dan langkanya komoditi tertentu akibat bencana alam dan terganggunya distribusi. Hal-hal tersebut otomatis akan membuat biaya produksi naik dan harga-harga melejit.
Faktor penyebab terjadi demand pull inflation adalah tingginya permintaan barang dan jasa relatif terhadap ketersediaannya. Dalam konteks makroekonomi, kondisi ini digambarkan oleh output riil yang melebihi output potensialnya atau permintaan total (agregate demand) lebih besar dari pada kapasitas perekonomian. Dengan kata lain, banyaknya uang beredar di masyarakat yang melebihi jumlah produksi barang dan jasa merupakan pemicu inflasi jenis ini. Inflasi jenis ini bisa memicu naiknya produksi sehingga keuntungan perusahaan naik. Tapi, bila inflasi ini berkelanjutan, harga-harga barang lain dan harga biaya tenaga kerja juga akan ikut naik. Akibatnya, daya beli masyarakat akan turun.
Sementara itu, faktor ekspektasi inflasi dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dan pelaku ekonomi apakah lebih cenderung bersifat adaptif atau forward looking. Hal ini tercermin dari perilaku pembentukan harga di tingkat produsen dan pedagang terutama pada saat menjelang hari-hari besar keagamaan (lebaran, natal, dan tahun baru) dan penentuan upah minimum regional.
Penyumbang inflasi terbesar pada tahun 2010 yang lalu adalah terjadinya kenaikan pada bahan makanan, terutama untuk komoditi pokok. Cabe semakin pedas, beras semakin sulit dijangkau, beberapa pendapat mengatakan dan menjadikan anomaly cuaca menjadi salah satu alas an, namun di sisi lain yang tak kalah pentingnya adalah pada bagaimana barang tersebut sampai ke konsumen.
Sebagaimana diketahui hamper semua kebutuhan terhadap bahan makan Jambi berasal dari impoir antar daerah, cabe di datangkan dari Bengkulu, padang dan kota-kota terdekat, begitu juga dengan beras yang sebagaian di dapat dari Sumatera Selatan, belum lagi termask kielompok bawang.
Ketika berbica impor maupun sebaliknya maka kita akan dihadapkan pada kondisi dan baiknya infrastruktur, kondidi inilah yang akhirnya mempengaruhi juga terhadap kenaikan harga, karena bebarapa kondisi jalan yang tidak memadai sehingga menimbulkan cost tambahan yang gilirannya berpengaruh pada stabilitas harga.
4. Alternatif Mengendalikan Inflasi
Perlu dilakukan upaya nyata oleh Pemerintah untuk mengurangi tekanan kenaikan harga yang disebabkan oleh harga pangan dunia. Jadi langkah yang mungkin dilakukan adalah dengan meningkatkan kapasitas dan kualitas produksi pangan di daerah, sehingga mampu menghasilkan produk sendiri. Selain itu, kendala teknis tentang distribusi juga harus dibenahi oleh Pemerintah sehingga dapat mencegah kenaikan harga dan kelangkaan bahan-bahan kebutuhan pokok utamanya bahan makanan